Langsung ke konten utama

Aku

Terkadang aku ingin berhenti menulis. Meskipun itu keahlianku, meskipun itu kegemaranku, meskipun hanya itu yang bisa kulakukan. Ku selalu merasa menulis sangat menyenangkan. Namun di sisi lain, menulis benar-benar terasa menyakitkan.

Kau tak tahu sesak yang menyergap ketika pikiran cemerlang tertahan jemari yang tak mampu menggoreskan pena. Bagaimana kau meratapi setiap diksi hampa yang tertulis tanpa makna. Bagaimana kau menyadari tak ada perasaan yang tertuang dalam karya.        

Kau bahkan tak tahu, atau bahkan tak menyadarinya. Kehadiranmu membuatku semakin sulit. Semua rasa melebur dalam dada, karena cinta yang kau cipta. Aku kalut, bingung, tapi tak menolaknya. Aku menikmatinya, aku menyukainya. Meski membuat otak ini hanya terisi olehmu, meski itu membuat semua diksi beraturan menjadi barisan gombalan, meski itu membuat degup jantung tak beraturan dan menyesakkan. Aku sangat menikmatinya.

Lalu kau pergi. Hingga tersisa ruang kosong penuh pilu. Rasanya hancur. Kenikmatan semata karena dorongan cinta begitu saja sirna. Barisan puisi sendu tercipta, panggung drama dunia terasa hanya menampilkan drama kesedihan. Lembar demi lembar kertas basah akan air mata, sobek dan hilang ditelan rasa sakit yang terlampau dalam.

Aku muak. Diri ini hanya tersisa serpihan-serpihan rapuh. Aku bisa lebih rusak dari ini. Sampai tangan gemetar tak mampu menulis lagi. Bahkan isi hati tak kuasa untuk diungkap keluar dari memori.

Maka tetap kutulis ini. Sebuah karya penuh rasa sakit. Sebuah karya penuh dengan ironi. Ironi yang lebih kejam dari cinta bertepuk sebelah hati. Tanpa darah, hanya air mata yang menggenang dalam ruang perih. Meski tak mampu, tangan ini terus menulis. Dan menulis. Menolak otak untuk melupa. Mencegah hati ini tersembuhkan begitu mudah.

Di sini, dalam kisah ini, tanpa kau lagi, aku sendiri. Mengenang sebuah kisah kasih, antara aku dan kau. Kau dan aku. Dan aku sendiri yang akan mengakhirinya.

Aku penulis. Dan aku yang akan menulis akhir ceritaku sendiri.


kaniyóaraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...