Langsung ke konten utama

Aneh Rasanya

Aneh rasanya ketika melihatmu kini bergandengan erat dengan yang lain. Tangan hangatmu yang biasanya menggenggam jariku yang terus menggigil, pun senyuman hangat yang tak lagi mengarah istimewa kepadaku seorang. 


Aneh rasanya ketika hanya mampu melihatmu dari kejauhan. Bibir ini kelu hanya untuk sekedar memanggil namamu. Padahal tak jauh jarak antara kau dan aku. Ah, ada dia yang kini berada di sampingmu. Karena biasanya di situ ada aku, dan kau kini tak mau lagi berpaling ke arahku.



Aneh rasanya ketika tiba-tiba kakiku membawaku untuk mengikutimu. Aku rindu suaramu, aku rindu tawamu. Dan hanya ini yang bisa kulakukan sebagai obat rindu.



Aneh rasanya ketika menyadari bahwa kini aku sendirian. Aku yang seringkali mengais perhatianmu, menyita waktumu, kini  diam tak tahu lagi kemana diri ini harus menghalau sendu. Jangankan itu, rasa sayangku kepadamu pun tak tahu lagi harus kubuang kemana. Semua sudut kota penuh akan kenangan kita, sayangku. Aku terlalu takut jika mereka akan membawa ingatan tentang kita, padahal aku sudah berusaha menguburnya dalam-dalam.



Jujur, aneh rasanya. Ketika aku menyadari bahwa setelah kita berpisah lamapun, aku masih mencintaimu, selalu.



kaniyóaraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...