Langsung ke konten utama

Pengorbanan Tak Utuh

Aku, dengan potongan hati yang terakhir,
memutuskan untuk mendedikasikannya kepadamu.

Kau mau aku seperti apa? 

Cantik? Aku akan berusaha mempelajari bagaimana merias diri.
Seksi? Aku akan berusaha diet dengan menghindari segala makanan manis yang sangat kusukai. 

Kau ingin aku seperti apa? 

Pintar? Tenang, aku bersahabat dengan perpustakaan. Bau buku tua pun menjadi favoritku. 
Baik? Kuharap kau tak sadar dengan pencitraan yang selama ini kubangun demi menarik perhatianmu. 

Kau butuh apa dariku? 

Uang? Tentu. Berikan saja nomor rekeningmu. Akan kuberikan berapapun nominal yang kau inginkan. 
Cinta? Kau sudah memiliki cintaku seutuhnya, sayangku. 

Segala hal kulakukan demi membuatmu bahagia, 

Namun apa yang akhirnya kau berikan kepadaku? 
Kebohonganmu.

Kapan cintamu bisa seutuhnya menjadi milikku? 

Kapan kau tak lagi pamrih terhadap perasaanku? 


—kaniyoàraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...