Langsung ke konten utama

Penyesalan (kek)Anak(an)

Aku hanyalah seorang gadis rapuh, yang tak jarang menangis karena hal sepele. Yang suka mempermasalahkan hal kecil hingga jadi bara amarah. Yang tak bisa diam, overheboh terhadap banyak hal.

Kau bisa bilang aku kekanakan, di umur yang kerap disebut masa remaja ini. Aku tak bisa bersikap dewasa seperti yang lain, otakku tak pernah bisa dingin dan hatiku tak pernah bisa tenang. Jantungku tak pernah bisa berhenti nyeri setiap berdetak, tubuhku tak pernah bisa berhenti bergetar setiap bicara di depan banyak orang.

Kau bisa bilang aku terlalu dini untuk mengenal cinta. Ya, perasaan bahagia yang disatukan dengan bumbu-bumbu perih, seolah haram untuk kuicip sekarang ini. Masih terlalu kecil untuk mengerti sakitnya patah hati, katanya. Tapi ku tak peduli, begini-begini aku orang yang keras kepala, ingin selalu mencoba hal baru yang kutemukan. 

Tapi kupikir, ada benarnya juga kau. Aku belum bisa menerima rasa sakit hati yang sungguh menyiksa batin ini. Mataku tak henti menangis, mulutku tak henti meracau. Tak henti kubisikkan pada angin perihal dirinya yang begitu berkilau di mataku, hangat di hatiku. 

Aku ingin mengulang masa sebelum bertemu dengannya. Lalu menjaga hati, menjaga perasaan ini agar tak terjerumus dalam jaring laba-labanya. Aku tak ingin terjatuh hanya karena rasa yang salah. 

Tapi aku tak bisa mengulang waktu.



—kaniyoàraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...