Langsung ke konten utama

Terima Kasih, Cinta.

Sudah kukatakan berjuta-juta kali,

Mungkin kau sudah bosan pula mendengarnya. 


Meskipun begitu, aku tak akan pernah berhenti mengutarakannya padamu. 

Ya, hanya kepadamu seorang hati ini berlabuh. 
Hanya kepada dirimu, tempat yang selalu kujadikan sandaran kala senang maupun sedih. 

Kutahu kau pun hanyalah manusia biasa, 

bukan malaikat sempurna yang diutus Tuhan untuk menemani sepiku.
Di segala kelebihanmu, dibalik ketampananmu, di antara kebaikanmu,
Ada secuil dua tiga empat kelemahan yang sengaja tak sengaja kau tutupi dariku. 

Aku tahu, dan aku memakluminya. 

Akupun juga tak sempurna, sayang. 
Aku hanya memiliki sepotong cinta, 
Dan hanya kaulah yang bisa melengkapinya. 

Terima kasih, cinta.

Kau hadir mengubah rasa sakit ini,
Menjadi bahagia yang tak henti membuncah dalam dada.
Menghadirkan senyum di hari-hari gelap yang kulewati.

Sekali lagi terima kasih, cinta.

Berkatmu, aku terbebas dari rantai belenggu masa lalu.
Cahayamu menyinari hatiku yang terlampau gelap, 
Kau dengan berani menghalau sarang-sarang kesedihan,
Yang terlanjur bersemayam dalam jiwaku. 

Cinta, ini yang terakhir. 

Kuucapkan terima kasih lagi. 
Berkatmu pula, kurasakan kembali apa itu kehilangan yang sesungguhnya. 
Ku bisa kembali merasakan pahitnya pengkhianatan,
Tikaman sakit di ulu hati yang terus datang bertubi, 
Aku lengah, aku kalah lagi. 

Maaf, cinta.

Ku tak lagi mengharap hadirmu dalam duniaku yang terlanjur pekat.
Ku tak mampu mengucap terima kasih atas apa yang telah kau perbuat padaku. 

Maaf, cinta. 

Biarkan rasa ini mati.
Lagi.


—kaniyoàraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...