Langsung ke konten utama

Wajar, kah?

Dia seperti gula,
Wajar jika banyak semut yang mengerubunginya,
Ingin memilikinya.

Dia seperti matahari,
Wajar jika banyak planet mengitarinya,
Ingin selalu dekat dengannya.

Dia seperti boneka lucu,
Wajar jika banyak gadis ingin membelinya,
Ingin memonopolinya.

Cinta memang semenyedihkan itu,
Dia bagai cahaya, dan kau hanyalah bayangan saja.
Dia bagai bintang, dan kau hanyalah serpihan debu angkasa saja.
Dia bagai bunga, dan kau hanyalah secuil duri di batangnya saja.

Jadi wajar saja, bukan?
Jika dia lantas memilih bersama yang lain,
Karena kau tak semenarik itu.

Wajar, bukan?
Jika hatinya lari ke gadis lain,
Karena kau tak mampu membuatnya semakin jatuh hati padamu.

Wajar, kah?
Jika rasa ini tak bisa merelakan,
Melihat kau sibuk bercanda dengan gadis lain,
Sedangkan aku sibuk menangis mencari alasan lain,
Untuk tetap bertahan atau melepasmu.

Wajar, kah?


— kaniyoàraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...