Langsung ke konten utama

Yang Berusaha Membenci Hujan

Sebenarnya aku tak membenci hujan. 
Aku menyukai bagaimana tiap butir beningnya membasahi pelipisku sebelum turun ke pipi, lalu menetes ke hati.

Aku menyukai bagaimana hujan membawa segumpal kenangan masa lalu yang tak kuharap akan datang kembali, namun itu memberiku segenap kekuatan untuk berani bangun esok hari dan terus melangkah maju.

Aku menyukai bagaimana rasanya menangis di bawah hujan. Dengan baik hati hujan menyembunyikan isak tangis dibalik deras air yang terus menghujam tanah tanpa ampun.

Namun kemudian, aku membenci hujan. 
Aku tak lagi bisa tenang ketika hujan datang deras bersama gemuruh petir. Hatiku berdetak tak karuan, cemas takut bila tiba-tiba listrik padam. Aku takut gelap, tapi hujan menghiraukan itu. 

Aku tak lagi bisa menikmati dinginnya hawa ketika hujan datang. Kepalaku tiba-tiba disesaki berbagai pemikiran negatif yang membuatku harus duduk atau berbaring, lalu menangis pelan untuk menghilangkannya. 

Aku tak lagi bisa menikmati tiap hujaman hujan yang dulunya ramah, kini terasa semakin menusuk relung hatiku. Semakin banyak kenangan yang hanyut bersama air hujan, semakin enggan aku untuk menikmatinya. 

Kita sampai di sini saja, hujan.


— kaniyoàraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...