Langsung ke konten utama

Tuhan, Bolehkah?

Tuhan, lagi-lagi aku jatuh cinta. Entah ini sudah keberapa kalinya. Rasa takut akan pengkhianatan masih bersemayam dalam-dalam. Aku takut jatuh ke dalam luka yang sama. Aku takut jika terbuai cinta yang penuh dusta.

Tuhan, aku takut. Tapi rasanya kali ini berbeda. Mungkin saja, tapi rasanya lain. Hatiku sejak awal nyaman bersamanya. Detik-detik hidupku hanya diisi dengan canda tawa dan rasa bahagia. Aku memang belum terlalu lama mengenalnya, tapi kelihatannya dia sangatlah baik. Dia selalu memprioritaskanku dan memperlakukanku dengan baik. 

Tuhan, terkadang dia seperti anak kecil. Suka merengek dan manja kepadaku. Dia lucu sekali. Benar-benar menggemaskan. Aku ingin memeluknya dan menjaganya. Tapi dia selalu bersikeras bahwa dia yang akan menjagaku. 

Tuhan, aku suka sekali dengannya. Aku sangat menyayanginya. Aku ingin mencintainya dengan segenap perasaanku. Aku yakin dia bisa memperbaikiku. Aku yakin dia akan mencintaiku lebih dari rasaku kepadanya. 

Tuhan, diakah jodoh yang kau kirimkan padaku? Apa dia pilihanmu untukku? Apa ini akhir dari penantianku? Jadikanlah dia yang terakhir untukku, bolehkah? Aku ingin menikah dengannya, memiliki anak-anak yang lucu, hidup bersama dengannya hingga tua. 

Tuhan, kali ini bolehkah aku berharap? Kumohon, aku hanya menginginkan dia.


— 07 | kaniyoàraa


Komentar

Tuhan mengatakan…
Boleh kok 😡👌

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...