Langsung ke konten utama

Sekali Lagi, Aku Ingin Menyerah

Aku menikmatinya, detik demi detik yang kulewati bersama kalian, kawan-kawanku.
Aku menghargai bagaimana kalian saling membangun hubungan--meskipun terkadang menggunakan bahasa sarkas yang menurutku terlalu berlebihan.
Aku terbiasa dengan semua hal yang kalian lakukan.

Tiba-tiba, keadaan berubah begitu saja.
Topik yang dibawakan begitu membosankan.
Satu persatu hal muncul membuatku muak.
Aku tidak nyaman.
Aku ingin pergi.

Berkali-kali aku pergi, dan berkali-kali aku menetap.
Aku ingin menemukan tempat yang tepat.
Tapi mengapa bagi kalian ini adalah hal yang mudah, tetapi bagiku sangatlah sulit?
Tuhan, mengapa tiba-tiba semua terasa tidak adil?

Aku, seorang kawan yang memutuskan untuk pergi.
Entah kau sebut aku kawan atau lawan, atau hanya sebuah angin yang berlalu begitu saja.
Pernahkah kalian menganggap eksistensiku?
Pernahkah kalian peduli padaku?

Tuhan, izinkan aku untuk menyerah lagi.
Dan izinkan aku untuk berani membangun kepercayaan lagi.
Aku muak hidup sendiri, di kubangan dingin tanpa cahaya mentari.


— kaniyoàraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...