Langsung ke konten utama

Tenanglah, Itu Hanya Setumpuk Masa Lalu

Bukannya bermaksud menjadi tipikal manusia pendendam, hanya saja ada beberapa hal yang membuatku mengharuskan rasa itu muncul begitu saja.
Satu dua hal yang terus menerus berubah menjadi sebukit kekecewaan, kesedihan.
Aku membencinya, semua hal yang terjadi di masa lalu. Ketika mata ini belum terpaut dengan matamu yang menawan. Lugunya diriku dulu yang suka sekali berlarian kesana kemari, menjelajahi semua pintu hati yang dibukakan untukku. Tak mengenal apa itu rumah, tak mengenal arti kasih sayang sesungguhnya.

Aku benci ketika kau membuatku harus mengingatnya. Aku benci ketika kau membuatku harus merelakannya, membiarkannya karena itu sudah terlanjur terjadi. Hanya saja, aku tak menyangka hal semacam itu pernah terjadi dalam hidupku.

Kau, dengan santainya hanya tersenyum dan berkata, "Tenanglah, sayang. Itu hanya masa lalu." lalu mencium keningku dengan penuh cinta. Aku hanya bisa menunduk malu, meski separuh hatiku ingin menjerit, sisanya berdemo karena tak sejalan dengan pemikiranmu. 

Aku tidak pendendam. 
Hanya saja, aku takut kehilanganmu ketika kau tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hidupku. Kau terlanjur menjadi berlian yang sangat berharga, yang harus kujaga dari para pencuri.

"Akupun juga mempunyai masa lalu." katamu, menenangkanku. Aku diam, kau pun diam. Kau tak pernah menceritakan cintamu yang sudah berlalu. Ataukah hatimu kini hanya terpaut denganku, aku tak tahu. Tapi kuharap begitu, karena aku terlanjur menyayangimu.

Kau menerimaku sepenuh hati, tak memandang bagaimana masa lalu menabrak akal sehatku, tak memandang rupa buruk ini. Kau terus tersenyum, memandangiku, terus menggumamkan perasaan cintamu padaku yang memuncak dan meletup-letup itu.

Kali ini aku ikut tersenyum, balas memandangimu dengan jiwa bahagiaku yang hampir meledak. 
Aku menyayangimu.



— kaniyoàraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10pm thoughts #2

Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, Untuk tidak jatuh terlalu dalam kali ini Aku sudah berusaha untuk menahan diri Meskipun akhirnya kau runtuhkan pertahananku dengan mudahnya Bagaimana bisa kau beri aku terlalu banyak cinta, sedangkan aku merasa diriku tak pantas menerimanya? Bagaimana bisa kau beri aku terlalu banyak rasa nyaman, sedangkan aku merasa diriku sudah tak lagi berguna di dunia? Bagaimana bisa, kau, menjadi alasanku untuk tetap hidup? Aku sudah benar-benar jatuh dalam cintamu, dan kau menggenggamku terlalu erat. Aku terpaku dalam kenyamanan yang tak pernah kurasakan sebelumnya, Aku benar-benar sudah merasa menjadi milikmu seutuhnya. Tapi, masih ada banyak hal yang tak mungkin kulupakan. Masih banyak masalah yang perlu dihadapi, sendiri maupun bersama Akankah kita bisa melewatinya? Akankah kau tetap menggenggam tanganku, atau akan kau lepaskan kelak? Kumohon, jangan jengah. Jangan lelah padaku. Kau harus tetap berjuang untuk membahagi...

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Amaris | #00 - Prologue

Itu terakhir kalinya aku melihat Amaris dalam hidupku.  Malam purnama waktu itu, Amaris yang berdiri di tepi tebing disinari cahaya rembulan perlahan menghilang dari mataku. Tubuhnya berubah menjadi ribuan bahkan jutaan serpih cahaya yang terbang ke langit. Kala itu, aku bisa dengan jelas melihat ekspresinya yang ketakutan. Wajahnya yang manis sangat pucat dengan sudut bibir yang sedikit berdarah. Sorot matanya memancarkan kesedihan.  "Aku tidak ingin pergi..." Kalimat terakhir darinya membuat kedua mataku memanas. Aku menangis di hari kepergiannya, dan hari-hari berikutnya. Hingga hampir satu tahun terlewati begitu saja, aku masih belum bisa melepas bayang-bayang malam itu.  Amaris pergi sambil menangis. Air matanya tampak menetes deras di pipinya sesaat sebelum tubuhnya perlahan berubah transparan. Amaris menyatu dengan warna langit malam, seperti warna rambutnya, rambut yang dulunya berwarna silver, yang selalu ia banggakan.  Di umur ke 17, warna rambut Amaris ber...