Langsung ke konten utama

Iri

Meskipun kita saling cinta dan sering menghabiskan detik bersama di telepon, realita bahwa jarak benar-benar membuat kita asing di dunia nyata tak bisa ditampik. Itu sangat menyakitkan jika diingat, bahkan tak diingatpun tak bisa lupa.

Kau harus tahu bahwa aku bisa benar-benar iri hingga menangis tanpa kau tahu. Aku iri dengan manusia lain yang bisa bercanda ria denganmu secara langsung, bisa melihat senyum dan tawamu yang hanya bisa kudengar di telepon. Aku iri dengan kucing yang bisa bersentuhan dengan jemarimu, yang kelak akan menetap dalam genggamanku. Aku iri dengan kawan yang bisa menghabiskan hari denganmu.

Mengingatnya saja membuatku sakit. Sakit hingga rasanya aku ingin melarikan diri dari kenyataan, aku ingin segera meninggalkan semua yang kulakukan di sini dan berlari ke arahmu. Ke dekapanmu yang aku yakin akan sehangat api unggun di malam pramuka.

Aku ingin terus bersamamu, mendengar suaramu terus menerus, menyentuhmu, membelai rambutmu, bercanda ria bersamamu, menghabiskan hidup yang mengerikan ini denganmu. Dunia ini kelak akan jadi milikku, dan milikmu pula. Milik kita berdua saja.

Dan kuyakin kita akan bertemu bahagia. Akhir yang indah denganmu di sampingku, dengan jiwa yang semakin menua, dengan hati yang semakin hangat.

Sampai hari itu tiba, aku akan tetap merasakan iri yang dalam.


—kaniyoàraa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kakak

Hai, kakakku.  Sepertinya ini surat pertamaku untukmu, ya? Hehe, maafkan aku. Bukannya aku melupakanmu, bukannya aku mengingatmu hanya ketika aku sedang bersedih, hanya saja ada satu dua hal yang menyita pikiranku hingga tak dapat kualihkan untuk sekedar menyapamu. Aku tak sepandai dirimu dalam hal menulis, idolaku. Aku hanya bisa mencurahkan apa yang kumau meskipun itu berantakan. Aku tahu kau pun akan memakluminya. Biar aku katakan ini. Kakak, aku menyayangimu. Aku menyukai bagaimana kau fokus mengejar targetmu, menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan ditengah kesibukanmu kau masih menyempatkan diri untuk menanyakan kabarku.  Aku akan selalu baik-baik saja, kak. Selama kau juga baik. Terkadang ketika malam datang, sunyi memancing potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan kita dulu. Hal-hal kecil yang menyenangkan, aneh, dan mungkin memalukan bagiku terus berputar tanpa lelah. Aku masih ingat bagaimana kau selalu menyemangatik...

Awan yang Menurunkan Hujan

Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Air mata di sudut pipi mulai mengering. Netraku saja sampai lelah menangis.  Kenapa kau tak lelah membuatku menangis?  Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Tanpa kawan, tanpa kau, awan.  Sinar surya melukaiku, kau enggan lagi melindungiku. Aku kepanasan, aku kesakitan. Aku melebur menjadi sepenggal kisah lama yang tak ingin kau kenang yang dengan cepat diserap tanah.  Dibawanya aku ke dalam tumpukan sampah yang terpendam dalam.  Tak akan ditemukan siapapun. Aku akhirnya mencapai titik terendahku.  Jarak kita yang bagai jarak Venus ke Pluto, semakin lama semakin renggang.  Sepertinya kau sudah menemukan alasan baru untuk tetap menjadi awan yang terus menurunkan hujan.  Dan itu bukan karena kau hendak melindungi sebutir debu di jalanan ini, bukan?  Seburuk itukah aku?  Jika iya, katakan saja iya.  Jika tidak, aku tahu kau berbohong.  A...